Minggu, 21 Juni 2015

Everyday is Holiday 2 Hari, 12 Pura, 9 Kabupaten

siang itu begitu panas menyambut kedatangan saya di bandara internasional ngurah rai bali. Ya, ini  kali kedua saya menginjakkan kaki di pulau dewata,  bedanya dulu saya harus menjadi tour  guide sebuah jasa pariwisata, Tapi kali ini saya harus menjalankan misi peliputan alias BKO di tanah Bali.

kali pertama menginjakkan kaki di pulau ini saat menjadi tourguide, tapi itu cuma sebentar, dan saat BKO inilah saya bisa menikmati Bali dengan segala keindahan, keunikannya dll. mumpung dapat penugasan gratis serta bisa jalan-jalan pula. jadi kapan lagi.

Bali memang terkenal dengan kota pariwisa apalagi pantai-nya, budayanya yang religius.

everyday is holiday, ituloah motto yang saya pgang ketika meggeluti profesi jurnalistik. yap kerna kalau tidak mencintai sebuah kerjaan sama saja tidak ikhlas dan akan selalu cemberut menjalaninya.

sebulan lebih 3 hari, senang sekali rasanya bisa berada disana, sebagai pendatang baru, ya pasti tujuan utama adalah pantai kuta dengan segala cerita tentang lokasi disekitar pantai kuta.

lokasi kedua saya lupa, dan seterusnya...untungnya sempat ke ubud, gianyar, sanur, dsb hingga tanah lot,

satu hal yang tidak bisa saya lupakan adalah ketika harus mengikuti kirab obor kampanye salah satu partai, oh iya pada saat itu moment pilpres 2014. mengunjungi 12 pura yang terletak di berbagai daerah di pulau dewata dalam waktu 2 hari 1 malam secara estafet. capek sih ia tapi selalu ada rasa yang terbayar saat mengunjungi tempat ibadah yang terletak di sekitar pantai, dan lokasi yang tenang lainnya.

sebenarnya sudah banyak detail cerita pariwisata tentang bali ini jadi tidak usah la yah saya detailkan ceritanya disini, biarkan gambarnya saya yang bercerita.


 



   



 

sebagian besar pura yang saya kunjung berada di tepi pantai.wonderful indonesia.
tapi kalau dibanding keadaan pantainya. jujur pantai di bali sedikit kalah sama pantai yang ada dikendari, bira bulukumba dan pantai di aceh. itu sih meurutku (maaf ini subjektif)

Minggu, 07 Juni 2015

Kisahku di propinsi paling ujung barat indonesia

setela hampir satu tahun dari bumi serambi mekkah baru bisa menuangkan dalam bentuk tulisan.
ngomong2 kenapa yah disebut serambi mekkah, jadi begini ceritanya...dahulu kala ketika jemaah haji asal indonesia ketika hendak melaksanakan ibadah haji menggunakan kapal, dulu belum ada pesawat yah, semua harus singgah terlebih dahulu di pelabuhan aceh, jadilah aceh disebut sebagai serambi atau teras nya mekkah. logis nda sih...selain memang aturan yg diterapkan di tanah aceh menerapkan aturan islam selayaknya aturan yg ada dimekkah. kalau da alasan lain bisalah berbagi informas.

bisa mampir di bumi serambi mekkah ini adalah hal baru bagi sy. Terlebih isu kekerasan masa lalu seakan menjadi momok yg menakutkan, tetapi itu ternyata jauh berbeda, isu yg di ciptakan oleh orang2 yg ingin kita trus berkonflik. aceh itu tanah yg damai kawan dan kaya.

Aceh memang kaya.
Bagi sebagian besar orang kalau berkunjung ke tanah rencong ini pasti soal  museum tsunami dan jejak2 peninggalanya dan pulau sabangnya atau saya salah ? Anggap saja saya salah dan terlalu dini menilai aceh dan pelancong yg mampir ke aceh.

Yang saya tahu sebelum ke sini tanpa googling, yg paling terkenal di aceh kota adalah museum Tsunami aceh dan lapangan sekaligus ruang terbuka hijau (RTH) blan padang yg banyak dimanfaatkan warga serta pulau sabang atau pulau weh.

Lapangan Blang padang dengan background replika pesawat pertama milik indonesia

Tapi tidak hanya itu, kita bisa kearah tengah aceh, yg juga memiliki banyak pesona khususnya soal budaya asal muasal tari saman itu sendiri ataupun pariwasata dan kulinernya.

Ibukota aceh tengah.
Pagi itu cuaca cerah menyapa, ketika saya menginjakkan kaki pertama kali di propinsi paling ujung barat  indonesia, aceh.
Dan hari ini setelah sebulan lamanya hanya berputar-putar di ibukota aceh, sy dan tim mempunyai project liputan feature (anggap ini sebagai liputan jalan-jalan) ke aceh tengah, tepatnya di kota yg menurut sy penyebutannya sedikit unik, yap namanya adalah takengon.
Secara geografis daerah ini terletak di aceh tengah, tepatnya di dataran tinggi gayo, tempat yg konon asal muasal tari saman. Kalau ini sih hasil ngobrol langsung dari mahasiswa aceh saat di semarang. Dan benar saja, anak2 yang masih berumuran (sekolah dasar) disini sudah mahir tari saman, apalagi tuk bagian yg kecepatannya spektakuler nyaris tanpa kesalahan saat teriakan serrr ha', Semua berhenti dengan tepat, lugas dan bersamaan. Gemuruh tepuk tangan pun terdengar. Plok plok plok...

Banyak hal yg bisa dikunjung di takengon ini seperti danau lot tawarnya hingga ikan endemik yg ada didalamnya. Hamparan kebun kopi dan apalagi yah...dari banyak artikel masih ada banyak lagi lainya. tapi saat itu hanya 3 lokasi wisata dan 1 kuliner khas yang bisa saya manfaatkan. Danau lot, tawar, kebun kopi, pantan terong dan kuliner pengat depik

Meluruskan penyebutan.
Jangan sekali-kali salah penyebut saat mampir ke suatu daerah kerna itu menurutku fatal apalagi sekelas media nasional.
Media seharusnya menjadi pembelajaran yg positif bagi yg menontonya, terus bagaimana jika terjadi kesalahan apalagi itu kesalahan penyebutan nama, sampe2 warga asli sini memberikan penjelasan panjang lebar dan saya peringkas disini. Tentang penyebutan danau lot tawar. Sebelumnya, ada banyak kasalahaan artikel dan pemberitahuan penyebutan nama bagi danau ini, khusunya media. nah, biar orang baru kayak saya ketika berkunjung ke aceh tengah tidak mendapatkan informasi yg salah itulah kenapa saya menuliskan di artikel ini.
kerna penyebutan namanya mirip dengan kata laut, jadinya Danau "laut" tawar, harusnya bukan danau "laut" tetapi "lot" tawar. Dalam bahasa takengon lot itu ya danau. Ketika kita menyebut danau lot tawar jadi ada pengulangan kata danau-danau, tapi tidak apa apa ini bisa di maklumi kerna satu menggunakan bahasa Indonesia dan satunya lagi bahasa daerah.

kita tinggalkan kesalahan penyebutan nama danau lot tawar inilah cerita perjalanan ku di takengon. Jadi, dari tadi itu apa...itu mukaddimah atau dalam artikel ilmiah latar belakang. Hehehehehe


Udara sejuk mulai terasa saat memasuki kawasan kab. Bener meriah, kab sebelum takengon. Di kabupaten bener meriah sentra kebun tebu alias penghasil gula, kopi juga ada sih. maklum saja kawasan aceh tengah berada di daerah dataran tinggi.
Berkunjung ke takengon jangan lupa membawa pakaian yg agak tebal ya, kecuali pembaca memiliki ketahanan fisik yg mumpuni, kerna seperti yg sdh saya sebutkan sebelumnya keadaan geografis takengon merupakan dataran tinggi. suhunya pun bisa sampai 13 derajat celcius saat malam hari, itu suhu yg saya liat di pengaturan suhu di hp kala itu. Kalau siang hari bisa sampai 19 derajat. Kata andika bakti anak asli takengon aslinya kusuma sih (keturunan sumatera-jawa, maaf kalau salah), beberapa waktu belakangan ini sekarang takengon sdh agak panas kerna perubahan iklim. Walaupun sudah perubahan iklim tetap saja siang hari di kota ini masih dingin, yah tidak jau bedalah sama daerah kopeng di salatiga atau daerah batu di malang.

Kaya kopi
Kalau di tanah jawa, daerah yg berhawa sejuk, dingin seperti ini sudah pasti dipenuhi hamparan perkebunan teh dan juga perkebunan sayur mayur.
Di sini hamparan tanaman kopi begitu membentang luas dan tumbuh subur. Kalau dari nilai ekonomi lebih menggiurkan teh atau kopi ? Atau memang kerna kontur tanah yg berbeda kalik yah.
Memang kaya lah tanah kita ini, sampai sedari sejak dulu pantas ada lagu "orang bilang tanah kita tanah surga. Tongkat kayu dan batu tanaman..lanjutkan" kalau kalian membaca sambil menyanyi berarti anda sering dengar lagu tersebut,hehehehe.

Kerna disini adanya kebun kopi.Tak heran aceh disebut surganya pencinta kopi, selain banyaknya kedai kopi. Tidak tanggung2, disini, kopi yg dihasilkan jenis robusta dan untuk menikmatinya warga lokal menyediakannya secara mandiri. Mulai dari biji hingga siap minum, disela-selanya ada proses penjemuran, penggilingan dan sangrai. Entah ini benar atau tidak prosesnya, maafkan kalau salah yak.
Tanaman kopinya juga tidak terlalu tinggi, tujuanya biar mudah saat memanen, dan biar tidak tumbuh keatas dan melebar warga memotong bagian atasanya, ini teori biologi yg menjawabnya.
mampir ke salah satu kepun kopi

Tapi, tuk biji kopi dengan kualitas terbaik siap untuk ekspor. Bukan berarti yg diolah sendiri tidak terbaik lho yah.
Kalau pembaca phinemoo ke aceh tapi tidak biasa minum kopi, saya menyarankan cobalah minuman yg bernama "sanger", ini sejenis kopi susu tapi rasa kopinya tetap ada. Jangan hanya mencicipi mie aceh dengan aneka rasa.

(Doc pribadi) take by zenfone 5 DoF

Pertama kali menikmati kopi olahan langsung, pahitnya minta ampun, sebagai penawar, gula merah pun masih terasa pahit. Maklum, selama ini minumnya kopi hasil olahan pabrik, siap seduh.


Destinasi lain
Selain tari saman, danau lot tawar. Saat ke takengon jangan lupa mampir ke pantan terong, namanya lagi2 agak aneh kan yah, keanehan inilah yg bikin indonesia kaya.

Dari pantan terong inilah kita bisa melihat ibukota aceh tengah itu dari ketinggian tanpa terhalangi satupun objek yg merusak pemandangan, pokoknya sangat cocok buat hunting foto apalagi selfie.

Pantan terong, kawasan tertinngi untuk melihat aceh tengah, takengon
Sejauh mata memandang hanya ketakjuban yg terlontar dengan karunia Allah, yg sudah di sajikan.
Ternyata pembaca phinemo. Takengon seperti district kecil yg kaya, yg makmur dan tenang. Jauh dari nuansa keramaian yg sangat cocok tuk menentramkan hati atau mencari kedamaian setelah penat dengan rutinitas yg menyibukkan. Dari sini pula kita bisa melihat sun set dengan background danu lot tawar dan pegunungan
Doc pribadi Mode panorama zenfone 5
Di takengon, saya hanya menghabiskan waktu dua hari tetapi tidak semua destinasi pariwisata tidak sempat saya kunjungi.

2 bulan di tanah yg menerapkan hukum (qanun) syariat islam berlaku sebenarnya cukup untuk mengelilingi aceh dengan segala kekayaannya, tapi apa yg bisa saya kunjung hanya sebagian kecil saja yaitu museum tsunami, masjid raya, masjid baiturrahman, masjid baiturrahim, pantai lampuuk, tebing gurute dan kolam permandian alam yg saya lupa namanya apa. Tidak lupa ke pulau sabang ke titik 0km indonesia bagian barat.

Saya yang baju hitam sebalah kiri frame. Yg baju putih kawan saya reza novayansyah.

Masjid Raya aceh, lupa namanya


Masjid Baiturrahim, ini salah satu masjid yg tetap kokoh berdiri dari terjangan tsunami, bahkan ada cerita kalau tsunami melewati masjid ini.

Jadi kalau ada yg bilang 100 hari keliling indonesia tuk menikmati alam indonesia sepenuhnya tidak salah walaupun tidak semuanya tempat di kunjungi.

Atau memang saya nya yg tidak aktif jalan.

Kerna tuk aceh sendiri destinasi wisanya mencar-mencar dan jaraknya agak jauhan.
Aceh, aceh tengah, meulaboh, pulau sabang dan sebagainya.

Biar ada alasan tuk kembali.
Tidak ada penyesalan kerna tidak bisa mengunjungi semuanya dalam waktu selama itu saat di aceh. Kerna biar saya ada alasan tuk kembali ke aceh dan menikmati liburan ke tempat2 yg belum saya kunjungi.
Coba tanya ke diri masing. Apakah saya bagian orang yg ketika berkunjung ke suatu kota ingin liburan ke semua destinasi wisata nya atau atau memetakan beberapa destinasi dulu ? Atau tanpa perencanaan ?

Sebenarnya bukan hanya aceh saja, beberapa kota bahkan tempat kelahiranku kendari dan kampung halamanku makasaar belum semua saya kunjungi, kota tempat kuliah semarang juga nda semua bisa di kunjungi. Alasanya satu biar saya ada alasan tuk kembali ke kota tersebut. (Detail cerita menyusul)


Oh iya ke aceh jgn lupa mampir ke pulau weh atau pulau sabang dan dimana kita berpijak disitu langit di junjung.

Sekian

Senin, 26 Januari 2015

membuat janji liburan dengan jurnalis

Menjadi seorang jurnalis khususnya seorang juru kamera di sebuah media nasional merupakan sudah rejeki yg sangat berharga, dengan berbagai resiko dan tantangan apalagi membagi waktu.

Hidup merantau membuat loyalitas di media tersebut sangat besar, walaupun kadang2 sy juga butuh waktu bersama dengan orang2 terdekat.

Jika libur 2 hari saya hanya menghabiskan waktu itu di daerah tempat sy bekerja.
libur 3 hari sy memilih libur ke daerah tempat sy mengenyam bangku kuliah.
libur 4 hari sy bertekad ke sebuah kota tempat dimana wanita yg saya anggap dekat dan spesial saat ini.
libur seminggu sy memilih balik ke kampung.

Membagi waktu libur di media sy katakan sangat susah libur 2 hari kalau sy pakai keluar kota akan sangat makan ongkos. Jadi mending sy memilih libur 3 hari atau lebih dengan mensiasatinya memgambil jatah libur masuk.

Dengan strategi begitu, besar harapan janji2 yg sudah terucap bisa terlaksana tp tidak demikian.

Apakah berjanji dengan orang yg berkutat di media tidak bisa si percaya ? 
Sy menjawabnya tolong di maklumi, maklum, kami atau sy sejauh ini yg berkutat di media tidak memiliki waktu yg leluasa sepeti profesi kalian yg waktunya bebas. Sy bisa bilang tidak mengeal waktu pasti. Jauh dari lubuk hati, ketika sy berjanji sy berusah menepatinya. Syukurnya sy bekerjasama dengan orang2 yg lebih dulu paham soal ini. Kecuali ini benar2 mendesak dan mendadak.

Kalau teori dikampus seorang jurnalis tidak mengenal waktu iya benar, tapi sangat manusiawi kalau waktu istirahat atau berkumpul dengan org2 terkasih, dekat juga sangat penting, bersyukur lagi bahwa media nasional punya waktu itu.

Oke kembali ke topik masalah membuat janji dengan seseorang yg berprofesi jurnalis bisakah ?

Jauh2 hari sebelumnya sy sdh berjanji tuk bertemu dengan seorang wanita yg juga lama sy tidak temui saat tamat sd, berencana mengunjungi nya di kotanya selalu tidak tepat waktunya, sampe akhirnya ini waktu yg tepat tetapi dia yg mengunjungi kota sy bekerja sebelum akhirnya ke kota tempat adiknya kuliah. Rencama mau bertemu dan liburan bersama harus kandas kerna penugasan mendadak keluar kota. Alhasil belum bisa bertemu. Sy hanya berharap Yang Kuasa bisa segeta mempertemukan kami segera. Amin.

Oh iya biasanya tuk merancang liburan luar kota, sy tidak bisa memesan tiket jauh2 hari maklum, semuanya bisa saja batal, alhasil tiket selalu beli seaaat sebelum berangkat, untungnya libur ritin weekdays jadi tidak masalah, mank ada moda transportasi yg sesak penuh saat weekdays ? Prinsip ini yg sy pakai tiap mau beli tiket, beda hal saat weekend.

Strategi paling aman adalah merancang pertemuan jauh2 hari lalu mengajukan cuti jauh2 hari juga.

Jadi jgn kapok membuat janji dengan jurnalis, jauh dari lubuk jati yg paling dalam, pasti ada kemauan tuk menepati nya.
Ku keker kau dengan bismillah

Kamis, 06 November 2014

semiotika dalam diri juru camera

Pemaknaan tanda, simbol atau kode. Itu yg harusnya dipahami ketika seseorg yg berprofesi seperti saya ini mengambil sebuah gambar. Yah gambar bisa menceritakan seribu makna tapi penangkapan yg melihat berbeda2. Mengaplikasikan teori dalam pernyataan itu tidak mudah. Kerna kegiatan yg sy geluti dituntut kecepatan akselerasi mengambil sebuah moment tanpa berpikir ini maknanya apa, apa dan apa. Keburu hilang moment. 

Pengaplikasian teori di sebuah profesi jauh dari kata diterapkan karena alasan itu tadi diatas

Saya hanya berpikir moment, dapat gambar ada dan aman, audio jernih, oh iya unsur keindahan terpskai ketika melakukan sebuah liputan yg sifatnya tidak membutuhkan kecepatan.

Padahal ketika gambar itu ditangkap oleh yang melihat bisa menjadi bermacam2 penafsiran

Lantas bagaimanakah posisi teori saat melakukan tugas pengambilan gambar. Inilah yg menjadi pr buat sy juga.


Foto inu dibuat pada tanggal 6 Okt 2014, di expo indo defence 2014, jie expo kemayoran. Dari foto diatas apa yang bisa pembaca maknai, ditunggu komentrnya. Oh iya disaat bersamaan telah terjadi kasus penembakan mobil pak amin rais, kisruh dpr, aceh banjir, palembang asap, ptesiden jokowi kunker ke sulawesi dll tuk moment silahkan cari tahu sendiri kejadian yg terjadi sekitar tanggal segitu. Inilah alasan saya kembali membuka materi kuliah ttg semiotika. Karena sejujurnya sy juga sedikit terganjal dengan hasil foto diatas.


Lebih jelasnya baca teori dari Roland Barthes dan teori semiotika.

Terimakasih

Jumat, 12 September 2014

Rangkuman Bahan Kuliah tentang jurnalistik tv


postingan ini merupakan rangkuman kuliah khusunya tentang jurnalistik tv. Saat menimba ilmu di jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Diponegoro dari tahun Agustus 2009 - Agustus 2013.

mata kuliah jurnalistik paling dasar dijumpai saat semester 2 dan paling gokil di 
semester 4 : memproduksi sebuah program talkshow 
semester 5 : membuat foto essay dan membuat  membuat berita investigasi, sayangnya pada level ini kami tidak berhasil, hanya mampu membuat liputan indepth news
semester 6 : membuat majalah
semester 7 : membuat program acara tv, detail ceritanya sudah saya posting sebelumnya
semester 8 : saya memproduksi sebuah tugas akhir dokumenter bersama kakak kelas saya namanya mas bendrat, pada saat produksi  saya dibantu oleh adik-adik kelas saya. 

loh semester 3 nya kemana...pada semester itu kebanyakan fokus ke proses teori-teori komunikasi dan metode peneltian, dan nilai (IP) jeblok dan harus ngulang sp...ya ngulang karena nilai E.

kembali ke topik.
Bagaimana sih sebenarnya proses kerja di media mulai dari bawah hingga atas ? sebelum menjawab itu saya coba merangkainya menjadi sebuah cerita hehehehehhe...aslinya budaya membaca sudah berkurang...tapi klo buat tugas kuliah essay mau tidak mau harus membaca.

jurnalis itu orangnya

jurnalistik itu ilmunya

reportase baru kegianya

Reportase itu intinya ada 3 proses yaitu proses mencari atau menghimpun/mengumpulkan, mengelola dan menyampaikan.

Gaulnya adalah news gathering, news processing dan news presenting.

bagaimana sih proses news gathering itu :
  • bisa dengan mendatangi narasumber. pada level ini simpanlah CP narsumb, bakal guna sekali
  • langsung ke TKP, ini biasanya sebuah peristiwa
  • PELAYANAN DARURAT: Kantor polisi, pemadam kebakaran, kamar mayat, UGD-rumah sakit, pusat informasi cuaca, SAR 
  • Kantor Berita
  • INTERNET (koran mengutip dtc..dll) bagian ini tidak disarankan, tapi tuk memperkaya informasi boleh lah
  • Pers Release, ini biasanya yg ditunggu hahahahah....
  • atau arahan dari pimpinan redaksi, ataupun produser dll, ini biasanya menyangkut agenda sebuah Media
intinya bagaimana seorang jurnalis mencari sebuah informasi.

Bagian selanjutnya adalah News  Processing, biasanya bagaimana informasi itu di olah baik itu diolah menjadi sebuah berita berat, ringan, feature dan lain sebagainya...gaulnya di kenal dengan istilah sebagai berikut.
straight news, 
soft news, 
feature, 
indepth news, 
Indepth Reporting
Comprehensive News, 
Interpretative News
Investigative Report atapun 
Editorial. 

setelah diolah bagaimanakah sebuah liputan itu disajikan menjadi ciamik. berikut laporannya :
untuk media audio visual bisa dengan berbagai cara seperti 

1.READER: Pembaca berita (presenter) hanya memberikan informasi tanpa didukung gambar. Syarat: berita penting, berhubungan dengan berita sebelumnya.

2. GRAFIS: berita yang menggunakan grafis karena belum mendapatkan gambar

3. VOICE OVER (VO): berita pendek yang dibacakan langung oleh penyiar di studio dengan gambar terbatas. Syarat: gambar terbaru suatu peristiwa, paling lama 50 detik 

4. PAKET: laporan berita lengkap dengan narasi yang direkam dalam pita kaset. Syarat: durasi 1.45 – 2.5 menit dengan sambahan cuplikan narasumber

5. LIVE: live report dan live by phone, berita yang dilaporkan secara langsung oleh reporter dengan bantuan satelit. Menghubungkan studio dengan TKP

6. LIVE STUDIO: format berita dengan mendatangkan narasumber di studio

7. SOT (soundbite on Tape): format berita yang hanya menyajikan petikan wawancara narasumber. Syarat: saksi mata penting, tokoh masyarakat*.

8. SOUND BITE atau Sound Up: petikan wawancara narasumber* 
SOT, SB, SU pada intinya adalah sama (petikan wawancara)

9. Butted Soundbite: dua soundbite saling bertentangan yang digabungkan. ini kebanyakan di gunakan tuk tayangan gosip

10. NATURAL SOUND PACKAGE atau atmo: paket yang menggunakan back sound suara natural. Syarat: TKP, gambar bisa berbicara tanpa narasi. Contoh: tsunamy, pesawat terjatuh.
11. VOX POPS: voice of the people, yaitu komenter-komentar dari narasumber untuk merefleksikan opini publik biasanya opini warga lebih dari 2. 
CATATAN : khusus bagian ini, seorg reporter ataupun presenter jangan menyimpulkan hasil opini.

dari ke 11 diatas setiap berita bisa di sajikan dengan menggabungkan teknik penyajianya. 

oh iya menjadi seorang jurnalis tidak hanya bisa bekerja di media tapi bisa juga menjadi jurnalis warga atau trendnya disebut Citizen Jurnalis. seorang jurnalis diikat sebuah kode etik yang di sebut dengan KODE ETIK JURNALISTIK, sayanganya ini hanya sekedar tahu. seperti saya ini. dan tidak semua isinya saya bisa hapal.


nanti di update lagi yak. terimakasih....maaf kalau ada kesalahn....jgn suka copas, tinggalkan sumber dari mana.

tulisan saya ini bersumber dari mata kuliah jurnalistik yaw....
dan di Berita Kampus https://www.facebook.com/BeritaKampusSMG dan Zona kampus https://www.facebook.com/zona.kampus.1?fref=ts lah saya mempraktekkannya, dengan menjadi seorang reporter, camera person, dubber, editor gambar dll.

tuk tugas kuliah dan hasil libutan bisa liat Youtubenya atau klik link berikut https://www.youtube.com/user/redaksiberitakampus di sana ada juga tugas kuliah saya. hehehehe

sekian terimakasih. salam jabat hati selalu yak





Rabu, 10 September 2014

Generasi 80, 90 atau Milennium

Hari ini saat menuliskan unek-unek di diary elektronik saat resmi bergabung dalam sebuah grub yg bisa sy katakan membawa sy kembali ke masa-masa sy belum berkepala 2 seperti skrg ini. 

Seakan memakai mesin waktu, sy hanyut dalam kenangan masa lalu, dan ini tidak hanya saya, semua yg masuk didalam grub itu juga larut, kayaknya sih. bukan kayaknya tapi iya, mereka larut dengan sebuah kenangan masalalu yang bahagia
salah satu jenis barang yg mungkin ada pada tahun 80-90an
dan sekarang agak susah menemukannya 
Bukanlah generasi yg tidak bisa move on, tapi arus perubahan zaman yg tidak bisa di hentikan sangat berbeda di ketiga generasi yg menjadi judul diary elektronik ini.

aslinya sebenarnya saya terjebak masuk di grub itu, tapi beberapa kejadian yang mereka alami saat dewasa, saya alami di saat masa kecil, makanya kenapa saya bertahan di grub itu. mungkin suatu saat haru leave. biar nggak disangka memata-matai mereka, dan benar saja cuma bertahan 2 hari notif akun tsb saya hentikan.

lanjut ya.....

Bukan pula menuntut untuk menjadi generasi yg sama seperti pendahulunya tapi makin kesini, makin ingin kembali ke generasi dmana masa2 itu terjadi. Masa dimana sy msh imut, bebas, liar, tapi santun dan beretika. saya tidak mau mengatakan kalau masa-masa sekarang tidak santun alias tidak etis yah, masih ada kok yg beretika dan santun, hanya saja pada masa-masa ini kok berbeda sekali (IMO=In My Opinion)

salah satunya masa dimana sy kalau nakal mendapat punishment (hukuman) yg setimpal tetapi tidak melaporkan tindakan tersebut ke KPAI atau lembaga lainya.

lainya adalah masa dimana kalau ingin bermain bisa merakit sendiri, seperti mobil-mobil dari kulit buah jeruk bali, telpon-telpon kaleng, SODOkoro (dalam bahasa nasional mbuh artine opo), bermain secara berkelompok dan sesekali bermain single (congklak)

mumpung lagi liputan di kebun tebu,
bisa lah yah makan tebu sambil kembali ke masa lalu
Umur hanyalah sebuah angka, tapi jati diri dan pikiran yg membuat seseorang itu terlihat dewasa atau kekanak-kanakan

Saat sy membaca postingan di dalam grub tersebut ada sedikit hal yg menggelitik, bukan pula meng-kambinghitamkan generasi milennium karena semakin banyaknya dan berkembangnya teknologi sampe yg sebelumnya tidak diketahuinya. Seperti, permainan tradisional, kreatifitas, perilaku dll yg sangat berbeda dengan generasi sebelum mereka.

Oh iya, pernah membaca artikel anak berusia kurang 10 thn, bisa meloloskan diri dari penjara sebanyak 3 kali...itu hebat bukan. Bukan cuma itu, anak-anak sekarang ada juga yang berprestasi bahkan tingat internasional, juara olympiade internasional dan lain-lain. 

Bukankah mereka adalah ayah dan ibu dari anak generasi milennium tsb? Kenapa tidak bisa menularkan kebahagian masa kecil ayah ibunya ke anak, Bisa saja kan ? Seperti mengajarkan anak bermain traditional, mengajak anak bermain ke alam, ke kebun tebu atau memperkenalkan anak tuk berkreasi dan Berkreatifitas dengan barang2 disekelilingnya. Bukan begitu pembaca yg budiman? Bukan malah memberikan anak gadget atau games yg jadi trend skrg, disaat usia mereka belum mencapai batas maksimal untuk menggunakan alat tersebut. 

Yah mungkin alat itu sangat penting untuk mengetahui posisi saat orang tua merasa khawatir kemudian mencari tahu kabar dan lokasi anak dimana. tapi kan, bisa dong yah hp yg fasilitasnya nda usah mewah2 banget, telpon dan terima telpon, terima-balas sms dan ada pulsa kan gpp.

kalau berbagai peralatan jaman dulu itu sekarang telah tiada, apa iya tidak ada, ada museum kan ? ajaklah kami-kami yang masih anak-anak ditahun 2000an ke museum ataupun lokasi-lokasi yang setidaknya jadi sejarah orang tua kami, ajaklah kami kealam bebas, sebebas orang tua kami dulu bisa kekebun, ke gunung, laut, sungai dan sawah, kalau dikota tidak ada, ajaklah kami ke desa, dimana kalau saat kecil dulu kalian menggambar hanya ada gambar 2 gunung, matahari ditengah, jalan, sawah dan rumah. tularkanlah kebahagian bapak-ibu ke kami, jgn berikan fasilitas yang membuat kami sendiri senang menjalaninya hingga malas bersosialisasi.

selain faktor pergaulan, orang tua juga perlu mendampingi proses tumbuh kembang anak, hingga batas waktu yg tidak ditentukan. Nah, sang anak juga harus TAHU DIRI. daripada jadi anak DURHAKA, Na’udzubillahi min dzalik. Semoga kita selalu dilindung Tuhan kita. Amin

bukan maksud menggurui orang, kerna saat menuliskan ini, saya pyur adalah seoarang anak yang berumur 23 tahun, yang artinya saya lahir di tahun 90an awal, belum menikah dan pasti belum punya anak.

Mohon maaf atas segala unek-unek yg dituangkan dalam diary elektronik ini. jgn dilaporkan kepolisi kalau melanggal UU ITE...klo ada yang salah bisa saya rubah ataupun saya hapus. terimakasih.

Aslinya dulu waktu SMP (2003) saya menulis unek-unek di sebuah buku kecil....kerna sudah 2014 jadi di diary elektronik ini dah.

Senin, 08 September 2014

Ikan depik, khas danau lot tawat, Takengon

Hari itu sabtu tanggal 6 september 2014, saya berkesempatan melalukan kegiatan liburan (baca : peliputan) di daerah Aceh Tengah tepatnya di kota Takengon dan Kab Bener Meriah. nah disana ada sebuah danau yang didalamnya terdapat ikan khas danau tersebut. sudah tau kan kira2 anglenya kemana cerita ini...selamat membaca....

Sebelum jauh sy bercerita tentang ikan depik, sy ingin meluruskan penggunaan kata yg kini banyak digunakan buat menyebut danau ini. Banyak pelaancong atau media yg menggunakan kata "laut" sebenarnya itu sedikit keliru bagi saya, kerna danau tersebut bernama "lot" yang dalam bhs takengon memiliki arti danau. Dan mungkin karena memiliki pelafalam yg hampir sama, jadi sering digunakan kata laut

oh iya danau lot tawar terletak di Dataran tinggi Gayo, kabupaten Aceh tengah, Aceh dan disamping danau itu ada kota bernama Takengon. oh iya dataran tinggi gayo juga merupakan daerah asal muasal tari saman.


nah sudah tahu juga kan asal muasal tari saman, informasi yg saya dapat sih begitu ini dikuatkan dari hasil wawancara mahasiswa Aceh yang domisili di Semarang alias kuliah di Undip.

kita tinggalkan informasi diatas...

penampakan danau lot tawar yang diambil dari pantan terong
nah gambar diatas penampakkan dari danau lot tawar, tepat disampingnya ada sebuah kota bernama takengon, dan didalam danau itu terdapat ikan endemik yang bernama ikan depik. Endemik karena hanya berada di danau itu. Hal unik dan khas lainya menurut warga sekitar yang saya temui beliau mengungkapkan kalau ikan depik ini tidak bisa dipelihara alias kalau sudah keluar dari air danau langsung wafat, duh wafat...alias mati, yaialah mati namanya juga endemik.

kedua. kalau ingin benar2 merasakan kelezatan ikan berukuran kecil ini harusnya carilah ikan yang ditangkap secara tradisional kalau tidak salah sebutannya "dedesan". selama ini ikan depik ditangkap mengggunakan jaring, nah saat terkena jaring inilah, kelezatan ikan depik berkurang bahkan bisa pahit. Untuk bisa membedakan ikan yang ditangkap secara tradisional dan menggunakan jaring, dari bapak yang saya temui lagi bisa dilihat dari warna ikan.

loh kok warna, bukannya ikan kalau sudah mati sama saja warnanya. kalau ditangkap menggunakan jaring warnanya agak kehitaman di bagian kepala dan mudah hancur alias tidak bertahan lama
ikan depik yang ditangkap menggunakan jaring
kalau dilihat sekilas, dari dokumentasi yang saya ambil tidak seperti yang saya tuliskan diatas yah, tapi kalau di lihat lebih detail lagi ketemu kok, *mencari pembenaran hehehehehee. "bisa tidak hancur karena sudah diawetkan menggunakan es batu", ungkap pedagang ikan depik

kalau nekat ingin memelihara ikan ini, walaupun menggunakan air danau tetap tidak bisa bertahan alias langsung mati, karena ikan ini juga hidup di daerah2 tertentu di dalam danau.
PERHATIAN !!! FAKTOR suhu, kelembapan, keasaman air dan arus air menjadi faktor yang sangat berpengaruh. bahasanya sudah biologi banget belum ? hahahahahaaa

tingginya permintaan dan berkurangnya jumlah ikan depik yang ada didalam danau lut tawar sebenarnya menjadi perhatian serius, loh kok serius. ya seriuslah karena penangkapan secara membabibuta tanpa memperhatikan siklus kembangbiaknya bisa-bisa ikan endemik ini tidak lagi masuk dalam museum rekor indonesia. ups, maksudnya bisa-bisa ikan ini tinggal nama dan tidak bisa lagi di ketahui anak cucu kita selanjutnya.
penangkapan menggunakan jaring menyebabkan ikan yang harusnya bisa ber-kembangbiak harus terperangkapa oleh jeratan cinta nelayan dan menjadi santapan manusia yg tengah kelaparan dan ingin menikmati ikan ini.
ikan depik yang sedang mengandung harus mati sia-sia tanpa sempat bertelur dahulu
ikan depik ini sebenrrnya tidak setiap waktu bisa berkembang biak karena selain memperhatikan faktor yang sudah saya tuliskan sebelumnya, ikan depik juga berkembanganbiak dengan melihat musim kalau tidak salah musim hujan 9taulah perubahan iklim menjadikan semua musim jadi tidak menentu) dan menurut bapak yang saya lupa namanya, menjelaskan kalau ikan depik berkembang biak dengan perhitungan bulan hijriah

karena proses kembangbiak yang tidak menentu, ikan kecil berukuran mini ini kabarnya mengalami masa sulit, heheheeee dan salah satu alternatifnya adalah beberapa nelayan (tidak banyak sih sebenarnya) menggunakan alat penangkapan yg bernama dedesan. kenapa harus menggunakan didisen agar telur-telur ikan Depik dapat menetas dan larvanya dapat tumbuh kembali menjadi dewasa, solutif sekali. sayangnya untuk jenis penangkapan jenis ini tidak semenggiurkan seperti menangkap menggunakan jaring atau pukat, tapi bisa menyelamatkan ekosistem ikan bersisik dan berkilau ini. dan jika panen dedesan bisa dikatan panen raya. 

*maaf yah tuk dokumentasi pengkapan dedesan lupa saya dokumentasikan...  

untuk harga, ikan ini bisa dikatakan relatif sih hehehee, untuk satu bambu (1 bambu itu hitungan setengah liter kaleng) bisa mencapau harga 35 ribu rupiah...itu mahal atau murah gak sih ? saat itu saya membeli 2 bambu tuk dijadikan makanan khas kasil olahan ikan depik bernama pengat depik

sebenarnya ikan depik bisa diolah menjadi berbagai jenis makanan seperti depik pengat (masak kering), dedah (kukus), goreng, dan masakan masam jing (asam pedas). tergantung kreatifitas mau dioalah jadi apapun silahkan 
ikan depik sebenarnya sudah menjadi ikon kota atau kab Takengon dikarenakan ikan ini memang benar2 khas dengan segala keuikanya hahahahaa...tapi sejalan dengan berputarnya waktu, dari bapak yang saya ceritakan tentang jenis ikan yg saya konsumsi bukanlah jenis ikan depik, karena di dalam danau tersebut juga terdapat ikan berukuran kecil yang mirip dengan ikan depik yakni ikan eas dan ikan relo. yah kecewa deh kalau bukan ikan depik. tp gpp enak kok ikannya mau jenia apapun saya doyan, maklum penggiat jenis makanan seafood dan ikan.

oh iya kalau kalian yang membaca tulisan ini, kalau berkunjung ke Takengon siapin pakaian yang tebal karena suhu di daerah ini bisa mencapai 18'C dan maksimal 22'C. selain terkenal dengan danau lot tawarnya daerah ini juga terkenal sebagai pengahasil kopi 

terus terang sih selama main kedaerah dingin selalu yang di jumpai adalah teh, baru kali ini Kopi jadi sedikit norak gpp kan yah hihihihiii....disini pohon kopinya tidak tinggi alias setinggi saya sih, mungkin maksudnya biar gampang di panenya. biar tidak tinggi dan rimbun kesamping bagian atas atau pucuknya pasti dipotong, i know that...
tunggu cerita panjang lebar tentang kopi gayonya yak...

sekian terimakasih, sudah meluangkan waktunya tuk membaca blog yang yang tidak tau arah dan isinya ini
Mohon MAAF kalau tulisannya ada yang salah dalam memberikan informas,kurang lengkap dan detail. Sebisa mungkin tidak copypaste dari informasi yang sudah ada.
Tulisan yang anda baca merupakan hasil obrolan dan diolah menjadi sebuah diary elektronik.